Notification

×

Iklan

Iklan

Festival Sekala Bekhak Ke-11, Pemkab Lampung Barat Panggang Seribu Pancung Lemang

Jumat, 18 Juli 2025 | 23.00 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-20T17:54:55Z
Festival Sekala Bekhak Ke-11, Pemkab Lampung Barat Panggang Seribu Pancung Lemang

 BERNUS.CO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Barat memanfaatkan Festival Budaya Sekala Bekhak ke-11 sebagai momentum pelestarian kuliner tradisional daerah, salah satunya melalui lomba ngelemang atau memasak lemang, Sabtu (18/07/25) 

Acara ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Barat, Nukman, yang berlangsung di Lapangan Merdeka, Kelurahan Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit. Dalam kegiatan tersebut, Pemkab menyiapkan seribu pancung lemang yang dibagikan kepada 15 pekon dari tiga kecamatan: Sukau, Balik Bukit, dan Batu Brak.

Seluruh bahan dan peralatan lomba disediakan oleh Pemkab dan diserahkan kepada masing-masing pekon untuk dikelola dan dilombakan.

Festival Sekala Bekhak Ke-11, Pemkab Lampung Barat Panggang Seribu Pancung Lemang

Kehadiran Sekda Nukman yang dikenal kental dengan budaya adat menjadi semangat tersendiri bagi para peserta. Tanpa canggung, ia berbaur dengan masyarakat, bersenda gurau, bahkan turut menghibur peserta dengan nyambai atau berpantun bersama.

Nukman mengatakan bahwa lemang merupakan warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya secara turun-temurun.

“Alasan ngelemang ini dilombakan karena sekarang keberadaannya semakin langka seiring perkembangan zaman,” ujar Nukman.

Festival Sekala Bekhak Ke-11, Pemkab Lampung Barat Panggang Seribu Pancung Lemang

Ia menjelaskan, lemang adalah panganan khas Kabupaten Lampung Barat yang biasa disajikan pada hari-hari istimewa seperti Hari Raya, pesta pernikahan, hingga berbagai acara adat.

“Lemang bukan hanya khas, tapi juga erat kaitannya dengan adat istiadat masyarakat Lampung Barat. Ia menjadi salah satu komponen yang biasa disajikan dalam acara adat, seperti kematian, kelahiran, hingga pernikahan,” tambahnya.

Sebagai putra daerah yang mencintai kekayaan lokal, Nukman berharap keberadaan makanan tradisional ini tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Namun, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya karena minat generasi muda terhadap tradisi ini kian menurun.

“Mudah-mudahan tahun depan peserta lomba ngelemang lebih banyak, khususnya dari kalangan anak-anak muda, karena merekalah garda terdepan dalam pelestarian budaya daerah,” pungkasnya.(*)
×
Berita Terbaru Update