Notification

×

Iklan

Iklan

Diduga Rekayasa Utang Travel, Toing Mengaku Dipaksa Berangkat dan Dituduh Berutang oleh Ayah Widya

Senin, 02 Maret 2026 | 19.28 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-02T12:33:41Z
Pukul 02.21 WIB, Selasa (17/2/2026). Kondisi jalan desa di Bangka Selatan ini gelap gulita. Minimnya penerangan jadi ancaman keselamatan bagi pengguna jalan.

Pangkalpinang, Bernus.co – Seorang pekerja asal Lampung, Toing, mengaku menjadi korban dugaan rekayasa utang dan pemaksaan keberangkatan oleh Heru, ayah dari Widya. Peristiwa ini terjadi dalam rencana perjalanan dari Lampung menuju Pulau Bangka pada Februari 2026.

Menurut penuturan Toing, awalnya ia berencana menyusul Widya dan anaknya ke Bangka setelah menerima gaji pada hari Jumat. Namun rencana tersebut berubah setelah Heru diduga mendesak agar keberangkatan dilakukan lebih cepat, dengan janji bahwa biaya transportasi travel dapat dibicarakan kemudian.

“Dibilang gampang soal ongkos travel, yang penting berangkat dulu dan bawa berkas nikah,” ujar Toing, menirukan pernyataan Heru.

Dipaksa Berangkat, Berujung Tuduhan Utang
Toing mengaku berangkat dalam kondisi keuangan belum siap karena adanya desakan berulang melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp. Ia menyebut komunikasi tersebut turut didengar oleh rekan kerja dan mandor di lokasi kerjanya di Bangka Selatan.

Setibanya di Bangka, alih-alih proses pernikahan berjalan sebagaimana dijanjikan, Toing justru dibebani tuduhan memiliki utang biaya travel hampir Rp2 juta. Tuduhan tersebut ia bantah keras.

“Saya dipaksa berangkat, dibilang gampang soal ongkos. Tapi setelah sampai, malah saya dituduh berutang,” tegasnya.

Menurutnya, tidak pernah ada kesepakatan tertulis maupun lisan bahwa biaya tersebut menjadi tanggung jawab pribadinya.
Libatkan Pihak Ketiga

Situasi semakin memanas ketika Heru dan istrinya disebut meminta bantuan pihak ketiga untuk menemui Toing di lokasi kerja. 

Pertemuan tersebut justru menimbulkan tekanan psikologis karena pembicaraan sensitif dilakukan di hadapan mandor dan rekan kerja.

Salah satu pihak yang turut hadir mengaku merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut.

“Kami meninggalkan pekerjaan untuk membantu, tapi justru seolah dijadikan tameng. Pernyataan yang disampaikan ke Toing tidak sesuai dengan yang sebenarnya,” ujarnya.

Sejumlah saksi menyebut Heru cenderung menyerahkan pembicaraan kepada pihak lain, sementara dirinya bersikap pasif. Kondisi itu dinilai mempermalukan dan menekan Toing secara mental.

Siapkan Langkah Hukum

Hingga berita ini diterbitkan, Toing mengaku belum menerima itikad baik atau permintaan maaf dari pihak Heru. Ia menyatakan tengah menyiapkan langkah hukum atas dugaan:
* Tuduhan palsu
Pemaksaan
Penyalahgunaan kepercayaan
Kerugian materiel dan immateriel

Kasus ini rencananya akan dilaporkan ke aparat penegak hukum di Pangkalpinang.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa konflik relasi personal dan keluarga dapat berkembang menjadi persoalan hukum ketika disertai dugaan tekanan, kebohongan, serta sengketa tanggung jawab finansial. (Tim/Dev)
×
Berita Terbaru Update